
Oleh : Erik Apriyanti
Suasana liburan sekolah yang sangat menyenangkan kembali
aku rasakan setelah satu semester
bergelut dengan buku-buku pelajaran yang tebal itu. Seharusnya liburan semester
ini aku bisa berlibur ke universal studio’s Singapore seperti apa yang ayah
janjikan kepadaku jika aku bisa mendapaatkan peringkat satu. Akan tetapi,
tuntutan profesi yang dijalani ayah sangat tidak memungkinkan bagiku untuk bisa
berlibur kesana. Bukan karena biaya, melainkan karena waktu. Yah, ayah memang
selalu tidak mempunya waktu yang banyak untukku.
Aku
Bella Anna Oktavia. Aku adalah anak tunggal. Sangat sepi memang bila tidak
mempunyai saudara. Terlebih aku sudah tidak mempunyai ibu. Ia meninggal ketika
aku berusia 2 tahun.
Bulan
ini ayah diberi tugas dinas bekerja di papua tepatnya di pedalaman hutan Papua.
Ayah bekerja di bidang pertambangan yang menjadikan waktunya tersita di
pekerjaan.
Setelah
tiba di bandara Kokonao, mobil jemputan dari kantor tiba tepat di depan kami
ketika kami sedang sibuk megecek barang-barang kami. Didalam perjalanan, ayah
bercerita banyak padaku. Ia bercerita bahwa ibu meninggal di Papua. Kematiannya
pun sangat misterius. Aku pun tidak tahu runtut kejadiannya karena saat itu aku
masih terlalu kecil untuk memahaminya.
Setelah
beberapa jam, kami pun tiba di sebuah rumah mewah milik ibuku dulu sewaktu
bekerja disini. Suasana alam yang masih asri terasa sangat asing bagiku karena
aku terbiasa dengan suasana keramaian kota dan lalu lalang kendaraan bermotor
yang menimbulkan polusi yang sangat menyebalkan. Pada awalnya aku memang
menolak diajak pindah ke Papua oleh ayah karena pikiranku adalah perubahan
kulit menjadi hitam dan penduduknya yang berambut keriting kumal yang membuat
bulu kudukku mendadak naik.
Setelah
beberapa hari tinggal disana, aku mulai terbiasa dengan suasana dan keadaan
alam disana. Aku mulai mempunyai banyak teman, dan pandanganku yang buruk
tentang orang-orang papua kian lama kian menghilang. Mereka sangat ramah dan
sopan kepadaku. Aku sering bermain bersama mereka. Tak jauh dari rumahku, terdapat laut yang sangat
menakjubkan bagiku. Tidak seperti laut Ancol yang keruh dan sudah tercemar
polusi. Laut ini sangat indah dan jernih airnya. Di tambah dengan pasir
berwarna putih berkilau rupanya semakin menjadi daya tarik tersendiri bagiku.
Namun,
ayah sering melarangku bermain kesana karena konon laut itu adalah laut angker
yang hingga kini tak ada satupun orang yang dapat memecahkan misteri yang
merenggut nyawa ibuku. Ibu menghilang ketika sedang ber-snorkling disana.
Aku
sering melanggar larangan ayah untuk tidak pergi kesana. Aku sangat menyukai
laut itu. Begitu juga dengan teman-temanku yang pandai berenang. Mereka sering
menjelejahi laut itu untuk sekedar mencari bintang kaut atau kerang untuk di
bakar. Rasanya pun begitu lezat seperti daging udang dilumuri keju mozzarella.
Hingga pada suatu hari ketika ayah pergi ke kantor, aku
merasa sangat bosan. Kemudian untuk menghilangkan rasa bosanku, aku berniat
untuk bermain komputer. Akan tetapi, mouse komputernya tidak ada, “bagaimana
ini !! mousenya tidak ada. Apa aku cari saja ya di gudang. Kemungkinan besar
barang- barang yang sudah tidak dipakai disimpan disana.” Gumamku sambil
berjalan kearah gudang.
“
Kotor sekali gudang ini !! seperti tidak pernah dibersihkan.” Lalu mulailah aku
mencari mouse komputer. Aku mengobrak-abrik tempat yang kira-kira isinya adalah
alat-alat elektronik. Setelah babarapa mencari padsa tumpukan electonik
ternyata aku menemukan mouse yang aku cari. Setelah itu aku memutuskan untuk
langsung meninggalkan gudang karena udara didalam memang sangat membuat nafasku
tersengal-sengal. “KRAKKK !!!” aku tidak sengaja menginjak sebuah kotak yang
terbuat dari karton. “apa ini ,” segera kuambil karton itu seraya kubuka
perlahan isinya. “sebuah kertas ??” batinku sambil menganalisa kertas apakah
itu. Ini seperti kertas kuno yang digunakan oleh kerajaan-kerajaan jaman
dahulu. Aku kebingungan membacanya. Tulisannya sangat aneh bahkan tidak menyerupai
tulisan yang biasanya kebanyakan orang tulis. Sepertinya ini adalah gambar
sebuah istana megah ditengah laut dengan burung camar berpelatuk super panjang
dan berwajah seram sebagai penjaganya.
Nampak seram gambar di dalam kertas itu. Di sisi kanan terdapat tulisan
” istana dibalik ombak .’’
Saat
sedang bingung membaca tulisan itu, aku mencari kertas lain yang mungkin bisa
membuat teka-teki ini berhasil dipecahkan. Benar saja, aku menemukan sebuah
kunci berwarna biru. “Sepertinya aku belum pernah melihat kunci seperti ini,
aneh sekali bentuknya” ocehku sambil terus memperhatikan dengan seksama seluruh
bagian dari kunci itu.
Penemuan
kunci dan gudang itu aku ceritakan pada teman-temanku sehari kemudian.
“jangan-jangan nin adalah peta menuju istana di balik ombak yang pernah
orang-orang ceritakan” kata asha, salah satu teman baruku. “Dan kunci
itu...”kataku “Adalah kunci sebuah ruangan yang konon adalah tempat penyimpanan
harta karun istana dibalik ombak” lanjut Umam.
“Apapun itu kita tetap harus
memecahkan semua misteri ini teman !!” ocehku seperti burung-
kakak tua yang
belum makan 3 hari.
Malam
semakin larut, namun mataku belum juga bisa terpejam karena peristiwa di gudang
tepmpo lalu. Kutimang-timang kunci berwarna biru laut itu dan tak luput jua
pandanganku yang masih diiringi oleh kebingungan menatap kertas itu. Hujan
deras diluar masih juga belum membuat mata ini terpejam. Sampai akhirnya aku
berniat mendengarkan musik klasik, namun usaha ini belum juga berhasil. Berbagai
cara aku lakukan agar mata ini dapat terpejam. Dari menonton televisi, bermain
ponsel sampai membaca dongeng sebelum tidur aku lakukan. Dari kecil aku memang
menderita insomnia. Aku juga sangat tersiksa dengan penyakit yang satu ini.
“KRING..KRING..KRING
!!!!” terdengarlah bunyi keras dari ponselku. “Hallloo..halllo
bell..bell..hallo” teriak ayah dari telepon, “iya yah, aku sudah dengar jangan
bersuara keras-keras aku belum tuli”timpalku kesal. “ayah ada meeting penting
hari ini, kamu masak mie instan saja ya. Tidak apa kan ?” tanya ayah tanpa nada
kasihan. “Baiklah yah, apa boleh buat” kataku dengan nada kesal.
Sehabis
bangun tidur, aku langsung mandi dan bergegas mengamnbil sepedaku untuk pergi
ke rumah Sasha. Sesampainya disana aku langsung mengutarakan tujuanku untuk
memecahkan misteri Istana di balik ombak.
“Sha,
bagaimana kalau kita mencoba memecahkan misteri ini mulai sekarang. Bukankah
lebih cepat lebih baik ?” tanyaku
“Iya,
memang. Tetapi, bagaimana caranya supaya kita bisa pergi ke istana itu
sedangkan kita tidak tahu arahnya.”kata Sasha
Tiba-tiba
Umam datang dengan berlari menuju ke arah kami berkumpul. “ Sasha dan Bella.
Air laut sedang surut. Bagaimana kalu kita pergi kesana untuk mencari kerang
?”kata Umam dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
“Ide
yang bagus” jawabku dan Sasha serentak.
Air laut sedang surut. Itu tandanya
anak-anak berlomba-lomba mencari kerang laut. Mereka mencarinya ketika air laut
surut. Ini biasanya berlangsung kurang-lebih selama 2 jam. Banyak anak-anak
desa yang berbondong-bondong membawa pulang kerang laut. Mereka membawanya
pulang untuk dimasak. Dan memang aku akui kerang laut memang enak rasanya.
“Cepat Bella, kumpulkan kerang yang
banyak sebelum air laut kembali pasang” teriak
Sasha dari kejauhan. Aku memang tidak pandai dalam hal mencari kerang. Selain
mengandalkan ketelitian, mencari kerang juga harus mengandalkan kesabaran.
“ Ahh, yang sebelah sini sudah tidak
ada. Aku pergi kesana saja lah..”ucapku sambil berjalan menuju ketengah lagi.
Begitu seterusnya, karena aku sangat bersemangat dalam mencari kerang ( juga
karena aku belum sarapan), aku terus menuju ketengah laut dan semakin menuju
tengah.
“ Bella !! cepat lari air laut sudah
mulai surut.” Teriak Sasha dari kejauhan. “Atau kau tak akan bisa melawan
derasnya ombak. Cepat lari...!!” sambung Umam dengan nada yang masih berteriak
pula.
Tersadar akan teriakan
teman-temanku, aku lalu mendongakkan kepalaku dan melihat apa yang terjadi
didepan. “AAAAAAHHHHH!!!!!!” teriakku. Ombak yang sangat deras membuat tubuhku
tak kuasa menahannya. “ TOLONG....TOLL..LONGG” teriakku dengan kata yang
terputus-putus karena air dalamnya air laut membuat aku sulit menuju permukaan.
Dengan nafas dan sisa tenaga seadanya, aku terus berteriak mencari bantuan.
Tetapi hasilnya nihil, kulihat teman-temanku tak berkutik diasana. Hanya
berteriak-teriak meminta bantuan kepada nelayan yang akan pergi melaut. Tetapi
sayang, tidak satupun nelayan yang terlihat disana.
Tiba-tiba, aku merasakan seperti ada
yang menarik tubuhku dari bawah. Ini membuat aku tidak bisa bernafas karena
kepalaku tercelup kedalam air. Sampai akhirnya aku tidak kuat menahan nafas dan
pingsan.
*****
Rasa pengap yang menyelimuti ruangan
itu sangat menyesakkan dadaku. Dengan mata sayup dan kepala yang masih sakit
aku mencoba bangun dari bongkahan batu sebagi alas tidurku itu. Aku tak percaya
ini, tangan dan kakiku di ikat menggunakan rantai. Aku berusaha melepaskanya,
tetapi rantai itu sangat kuat. “ TOLONG..TOLONG..lepaskan aku” teriakku.
“ KRAKK” terdengan keras pintu yang
terbuat dari kayu yang sangat tebal terbuka. Dan datanglah dua ekor burung
camar yang berwajah aneh dan sangar. “ HEYY anak manusia. Kau telah lancang
memasuki daerah kerajaan kami. Kau harus kuadukan kepada Yang Mulia Raja untuk
dihukum” kata salah satu burung camar.
“Apaa?? Ini sungguh aneh. Burung itu
berbicara kepadaku. Burung itu bisa berbicara. Sungguh diluar akal manusia.”batinku
dalam hati. “Tetaplah disini, aku akan segera membawamu menemui baginda raja
setelah kami makan siang” kata burung camar.
“ Tunggu !!” teriakku. “Ada apa lagi
!!” kata burung Camar dengan nada yang lebih ditinggikan.
“ Dimana aku dan
siapa kalian ??” tanyaku
“ Kau berada di Istana balik ombak.
Sebuah istana yang berada di tengah laut. Dan kau telah lancang berada disini.
Kau sudah sepantasnya mendapat hukuman.” Jawab burung camar.
Kedua
burung Camar itu lalu pergi meninggalakan tempat penyekapanku. Setelah berpikir
cukup lama akhirnya aku teringat akan kata temanku bahwa istana dibalik ombak
itu memang benar-benar ada dan aku sekarang mengetahuinya. Aku juga ingat akan
gambar peta dan sebuah kunci berwarna biru muda itu. Beruntung aku tidak lupa membawanya.
Kulihat sakuku dan ternyata kedua benda itu ada. Aku sangat bersyukur karena
aku membawa peta itu, karena mungkin saja peta itu bisa menunjukan jalan keluar
dari istana dibalik ombak ini.
Tetapi,
sekarang yang aku pikirkan bukan tentang peta dan kunci itu lagi, tapi
bagaimana aku bisa melepaskan ikatan rantai ini. Kemudian aku tak sengaja
mencoba kunci berwarna biru itu untuk membuka gembok yang ada pada rantai itu.
Setelah kucoba ternyata berhasil. Senyum sumringah pun turut menghiasi wajahku.
Kubuka satu-persatu gembok rantai itu, dan kulakukan dengan cepat sebelum
burung-burung camar itu datang dan mengetahuinya.
Aku
langsung berlari melalui pintu belakang dan pada saat itu juga burung camar itu
masuk. Aku pun langsung berlari, berlari dan berlari. Kedua burung camar itu
masih tetap mengejarku. Dengan kondisiku yang masih lemas dan burung camar itu
semakin cepat mengejarku karena ia mempunyai sayap, aku memutuskan untuk
bersembunyi. Dengan masih dalam keadaan berlari, aku melihat keadaan sekeliling
yang siapa tahu ada tempat untuk bersembunyi.
Tiba-tiba
ada seorang anak kecil yang menarik lenganku dan membawaku berlari melewati
sebuah pasar. Ia mengajakku berlari menuju rumahnya.
“
Untunglah aku bisa lolos dari kedua burung Camar itu. Terima kasih kau telah
menolongku” kataku
“
Iya sama-sama. Oh ya, kau siapa dan dari mana ? sepertinya kau bukan orang
sini.” Tanya anak itu. “Aku Bella. Aku memang bukan orang sini. Aku tersesat
disini. Dan kau...?”tanyaku
“
Aku Mona. Aku juga manusia sepertimu dan aku juga mengalami nasib yang sama
separtimu, terdampar di istana balik ombak” terangnya.
“
Lalu bagaimana kau bisa sampai disini ?? Dan tempat apa ini ??” tanyaku. “Aku
terseret sebuah ombak yang membawaku ke tengah laut dan pada saat itu ada
sebuah pusaran yang menjadikan aku terdampar disini. Istana di balik ombak
adalah sebua istana yang berada disuatu tempat yang tidak terdapat didalam
peta. Ini bisa disebut sebagai pulau tersembunyi.” Terang Mona
“
Lalu, mengapa mereka ingin menangkap dan menghukumku ?” tanyaku lagi. “ Itu
karena baginda raja tidak suka bila ada penyusup yang memasuki wilayah
istananya. Apalagi manusia, dia tidak segan-segan menghukum dan memenjarakan
manusia yang telah lancang datang ke pulau ini”
“Tetapi, aku kan tidak sengaja terdampar di pulau
ini.” Jawabku.
“Begitulah..semua
manusia yang telah sampai di Istana ini tidak akan dibiarkan pergi begitu saja.
Mereka akan di sekap di penjara bawah tanah.” Ucap Mona
“Bagaimana
cara membebaskan mereka ?” tanyaku.
“
Hanya bisa dilakukan dengan satu cara, yaitu peta Istana di balik Ombak dan
sebuah kunci rahasia.” Jawabnya
“
Tunggu dulu, apa ini yang kau maksud ?” kataku sambil menunjukan sebuah kertas
dan kunci berwarna biru muda.
“
BENARR..ini adalah peta dan kuncinya. Bagaimana kau bisa mendapatkanya?” tanya
Mona
“
Ini aku temukan di gudang rumah ibuku dulu. Awalnya aku mengira ini adalah
barang murahan dan tidak berguna, tetapi taman-temanku memintaku untuk tidak
membuangnya.” Jawabku
Setelah
menyusun rencana dan tak-tik untuk dapat menyusup ke dalam istana, aku dan Mona
memutuskan untuk segera bergegas menuju istana untuk membebaskan para tahanan
di dalam penjara.
Aku
dan Mona menyusup melelui pintu belakang. Dengan aku mempunyai kuncinya, aku
menjadi semakin mudah menyusup ke dalam istana. Aku kira, kunci itu hanya bisa
digunakan untuk satu pintu dan itu pintu harta karun. Tetapi keinginan itu ku
urungkan niatku karena menyelamatkan orang-orang itu jauh ebih penting daripada
harta. Apalagi Mona pernah bilang bahwa adik laki-lakinya juga ikut dipenjara
disana. Hal ini membuat semangatku untuk menyelamatkan orang-orang itu menjadi
berkobar-kobar.
Dengan
tak-tik dan langkah yang telah disusun dirumah, akhirnya kami bisa memasuki
istana lewat pintu dapur. Kami menyamar menjadi prajurit kerajaan. Anehnya,
semua orang di kerajaan memakai topeng yang sangat menakutkan. Mona menyuruh
kau juga ikut memakainya.
“Gawat,
ada penjaga. Cepat kau lari menuju penjara bawah tanah dan selamatkan mereka.
Sementara aku akan tetap disini mengalihkan perhatian mereka” kata Mona
“
Tetapi bagaimana jika kau tertangkap ? kita datang bersama, pulang juga harus
bersama.” Jawabku gelisah.
“Tidak
!! menyelamatkan mereka jauh lebih penting. Ayo cepatlah lari.” Bentak Mona
Aku
pun berlari menuju ke penjara bawah tanah sambil melihat peta itu. Setelah
berlari cukup lama, akhirnya aku sampai pada sebuah pintu besar. Ku masukkan
kunci itu pada lubangnya. Aku terkejut. Banyak manusia sepertiku terkurung
disini.
“
Aku datang untuk menyelamatkan kalian. Cepatlah keluar, tetapi jangan sampai
ketahuan.” Bisikku dengan pelan.
“Bella
!!” panggil seorang wanita
“
Ibu !! ibu masih hidup ??”jawabku sambil memeluk wanita itu
“Ayo
kita tinggalkan tempat ini. Ini bukanlah lam kita.” Kata ibu
Aku,
ibu beserta orang-orang lain kabur melalui jalan belakang. Kami keluar secara
bergantian, jadi penjaga takkan bisa mengetahuinya. Setelah sampai di luar
istana, aku teringat akan Mona. Ia masih berada didalam. Aku pun berlari
memasuki istana lagi. Tiba-tiba ada seseorang yang menarik lenganku.
“Diam!!
Ini aku.” Kata Mona
“
Kau selamat. Syukurlah!!.” Kataku dengan nafas lega.
Kamipun
pergi meningalkan istana dan pulau itu. Dengan kunci itu kami bisa keluar dari
pulau misteri itu. Dan kini kami kembali dengan selamat.
Para
warga menyambut kedetangan kami dengan senang hati. Orang-orang sangat
berterima kasih kepadaku. Karena keberanianku, mereka menjadi selamat dan bisa
keluar dari Istana di balik ombak itu.
Sebagai
ucapan terima kasih, warga mengarakku menggunakan kereta kuda mewah dan megah.
Aku sangat senang dan bahagia bisa menyelamatkan mereka. Dan aku juga bisa
menyelamatkan ibuku. Ternyata ia belum meninggal. Bahagianya hatiku tidak bisa
dilukiskan dengan apapun di dunia ini.
Saat
para warga sedang mengarakku, tiba-tiba datanglah hujan yang sangat deras
membanjiri pantai itu. Para warga berlarian mencari tempat untuk berteduh.
Aku
pun basah kuyup dan tiba-tiba suara itu mengagetkanku.
“Ichaa
!!!! bangun !!! lihat sudah jam berapa. Masih ngorok saja !! nanti terlambat sekolah.” Teriak mama menghancurkan
semua mimpi indahku
“AAAHH
mama, orang lagi mimpi indah juga diganggu. Padahal aku kan baru saja
mendapatkan penghargaan karena telah menyelamatkan warga desa” jawabku sebal
dengan badan yang sudak basah kuyup karena disiram air satu ember.
Ternyata
hanya mimpi. Tetapi hal itu tak bisa aku lupakan seumur hidupku. Berpetualang
pada dunia mimpi sangat menyenangkan. Tetapi, bila harus mendapat hukuman dari
guru bahasa jawa di sekolah, mending nggak
jadi mimpi aja deh !!
Aku pun bergegas sholat subuh lalu mandi. Kegiatan itu
kulakukan dengan super cepat supaya aku tidak terlambat.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar