Senin, 09 September 2013

Baca cerpen dulu yuk blogger. Ini cerpen buat tugas Bahasa Indonesia, mohon krikik dan sarannya yaa...



Di balik ombak
Oleh : Erik Apriyanti
Suasana liburan sekolah yang sangat menyenangkan kembali aku rasakan setelah satu semester  bergelut dengan buku-buku pelajaran yang tebal itu. Seharusnya liburan semester ini aku bisa berlibur ke universal studio’s Singapore seperti apa yang ayah janjikan kepadaku jika aku bisa mendapaatkan peringkat satu. Akan tetapi, tuntutan profesi yang dijalani ayah sangat tidak memungkinkan bagiku untuk bisa berlibur kesana. Bukan karena biaya, melainkan karena waktu. Yah, ayah memang selalu tidak mempunya waktu yang banyak untukku.
Aku Bella Anna Oktavia. Aku adalah anak tunggal. Sangat sepi memang bila tidak mempunyai saudara. Terlebih aku sudah tidak mempunyai ibu. Ia meninggal ketika aku berusia 2 tahun.
Bulan ini ayah diberi tugas dinas bekerja di papua tepatnya di pedalaman hutan Papua. Ayah bekerja di bidang pertambangan yang menjadikan waktunya tersita di pekerjaan.
Setelah tiba di bandara Kokonao, mobil jemputan dari kantor tiba tepat di depan kami ketika kami sedang sibuk megecek barang-barang kami. Didalam perjalanan, ayah bercerita banyak padaku. Ia bercerita bahwa ibu meninggal di Papua. Kematiannya pun sangat misterius. Aku pun tidak tahu runtut kejadiannya karena saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahaminya.
Setelah beberapa jam, kami pun tiba di sebuah rumah mewah milik ibuku dulu sewaktu bekerja disini. Suasana alam yang masih asri terasa sangat asing bagiku karena aku terbiasa dengan suasana keramaian kota dan lalu lalang kendaraan bermotor yang menimbulkan polusi yang sangat menyebalkan. Pada awalnya aku memang menolak diajak pindah ke Papua oleh ayah karena pikiranku adalah perubahan kulit menjadi hitam dan penduduknya yang berambut keriting kumal yang membuat bulu kudukku mendadak naik.
Setelah beberapa hari tinggal disana, aku mulai terbiasa dengan suasana dan keadaan alam disana. Aku mulai mempunyai banyak teman, dan pandanganku yang buruk tentang orang-orang papua kian lama kian menghilang. Mereka sangat ramah dan sopan kepadaku. Aku sering bermain bersama mereka. Tak  jauh dari rumahku, terdapat laut yang sangat menakjubkan bagiku. Tidak seperti laut Ancol yang keruh dan sudah tercemar polusi. Laut ini sangat indah dan jernih airnya. Di tambah dengan pasir berwarna putih berkilau rupanya semakin menjadi daya tarik tersendiri bagiku.
Namun, ayah sering melarangku bermain kesana karena konon laut itu adalah laut angker yang hingga kini tak ada satupun orang yang dapat memecahkan misteri yang merenggut nyawa ibuku. Ibu menghilang ketika sedang ber-snorkling disana.
Aku sering melanggar larangan ayah untuk tidak pergi kesana. Aku sangat menyukai laut itu. Begitu juga dengan teman-temanku yang pandai berenang. Mereka sering menjelejahi laut itu untuk sekedar mencari bintang kaut atau kerang untuk di bakar. Rasanya pun begitu lezat seperti daging udang dilumuri keju mozzarella.
            Hingga pada suatu hari ketika ayah pergi ke kantor, aku merasa sangat bosan. Kemudian untuk menghilangkan rasa bosanku, aku berniat untuk bermain komputer. Akan tetapi, mouse komputernya tidak ada, “bagaimana ini !! mousenya tidak ada. Apa aku cari saja ya di gudang. Kemungkinan besar barang- barang yang sudah tidak dipakai disimpan disana.” Gumamku sambil berjalan kearah gudang.
“ Kotor sekali gudang ini !! seperti tidak pernah dibersihkan.” Lalu mulailah aku mencari mouse komputer. Aku mengobrak-abrik tempat yang kira-kira isinya adalah alat-alat elektronik. Setelah babarapa mencari padsa tumpukan electonik ternyata aku menemukan mouse yang aku cari. Setelah itu aku memutuskan untuk langsung meninggalkan gudang karena udara didalam memang sangat membuat nafasku tersengal-sengal. “KRAKKK !!!” aku tidak sengaja menginjak sebuah kotak yang terbuat dari karton. “apa ini ,” segera kuambil karton itu seraya kubuka perlahan isinya. “sebuah kertas ??” batinku sambil menganalisa kertas apakah itu. Ini seperti kertas kuno yang digunakan oleh kerajaan-kerajaan jaman dahulu. Aku kebingungan membacanya. Tulisannya sangat aneh bahkan tidak menyerupai tulisan yang biasanya kebanyakan orang tulis. Sepertinya ini adalah gambar sebuah istana megah ditengah laut dengan burung camar berpelatuk super panjang dan berwajah seram  sebagai penjaganya. Nampak seram gambar di dalam kertas itu. Di sisi kanan terdapat tulisan
 istana dibalik ombak  .’’
Saat sedang bingung membaca tulisan itu, aku mencari kertas lain yang mungkin bisa membuat teka-teki ini berhasil dipecahkan. Benar saja, aku menemukan sebuah kunci berwarna biru. “Sepertinya aku belum pernah melihat kunci seperti ini, aneh sekali bentuknya” ocehku sambil terus memperhatikan dengan seksama seluruh bagian dari kunci itu.
Penemuan kunci dan gudang itu aku ceritakan pada teman-temanku sehari kemudian. “jangan-jangan nin adalah peta menuju istana di balik ombak yang pernah orang-orang ceritakan” kata asha, salah satu teman baruku. “Dan kunci itu...”kataku “Adalah kunci sebuah ruangan yang konon adalah tempat penyimpanan harta karun istana dibalik ombak” lanjut Umam.
          “Apapun itu kita tetap harus memecahkan semua misteri ini teman !!” ocehku seperti burung-
kakak tua yang belum makan 3 hari.
Malam semakin larut, namun mataku belum juga bisa terpejam karena peristiwa di gudang tepmpo lalu. Kutimang-timang kunci berwarna biru laut itu dan tak luput jua pandanganku yang masih diiringi oleh kebingungan menatap kertas itu. Hujan deras diluar masih juga belum membuat mata ini terpejam. Sampai akhirnya aku berniat mendengarkan musik klasik, namun usaha ini belum juga berhasil. Berbagai cara aku lakukan agar mata ini dapat terpejam. Dari menonton televisi, bermain ponsel sampai membaca dongeng sebelum tidur aku lakukan. Dari kecil aku memang menderita insomnia. Aku juga sangat tersiksa dengan penyakit yang satu ini.
“KRING..KRING..KRING !!!!” terdengarlah bunyi keras dari ponselku. “Hallloo..halllo bell..bell..hallo” teriak ayah dari telepon, “iya yah, aku sudah dengar jangan bersuara keras-keras aku belum tuli”timpalku kesal. “ayah ada meeting penting hari ini, kamu masak mie instan saja ya. Tidak apa kan ?” tanya ayah tanpa nada kasihan. “Baiklah yah, apa boleh buat” kataku dengan nada kesal.
Sehabis bangun tidur, aku langsung mandi dan bergegas mengamnbil sepedaku untuk pergi ke rumah Sasha. Sesampainya disana aku langsung mengutarakan tujuanku untuk memecahkan misteri Istana di balik ombak.
“Sha, bagaimana kalau kita mencoba memecahkan misteri ini mulai sekarang. Bukankah lebih cepat lebih baik ?” tanyaku
“Iya, memang. Tetapi, bagaimana caranya supaya kita bisa pergi ke istana itu sedangkan kita tidak tahu arahnya.”kata Sasha
Tiba-tiba Umam datang dengan berlari menuju ke arah kami berkumpul. “ Sasha dan Bella. Air laut sedang surut. Bagaimana kalu kita pergi kesana untuk mencari kerang ?”kata Umam dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
“Ide yang bagus” jawabku dan Sasha serentak.
            Air laut sedang surut. Itu tandanya anak-anak berlomba-lomba mencari kerang laut. Mereka mencarinya ketika air laut surut. Ini biasanya berlangsung kurang-lebih selama 2 jam. Banyak anak-anak desa yang berbondong-bondong membawa pulang kerang laut. Mereka membawanya pulang untuk dimasak. Dan memang aku akui kerang laut memang enak rasanya.
            “Cepat Bella, kumpulkan kerang yang banyak sebelum air laut kembali pasang”  teriak Sasha dari kejauhan. Aku memang tidak pandai dalam hal mencari kerang. Selain mengandalkan ketelitian, mencari kerang juga harus mengandalkan kesabaran.
            “ Ahh, yang sebelah sini sudah tidak ada. Aku pergi kesana saja lah..”ucapku sambil berjalan menuju ketengah lagi. Begitu seterusnya, karena aku sangat bersemangat dalam mencari kerang ( juga karena aku belum sarapan), aku terus menuju ketengah laut dan semakin menuju tengah.
            “ Bella !! cepat lari air laut sudah mulai surut.” Teriak Sasha dari kejauhan. “Atau kau tak akan bisa melawan derasnya ombak. Cepat lari...!!” sambung Umam dengan nada yang masih berteriak pula.
            Tersadar akan teriakan teman-temanku, aku lalu mendongakkan kepalaku dan melihat apa yang terjadi didepan. “AAAAAAHHHHH!!!!!!” teriakku. Ombak yang sangat deras membuat tubuhku tak kuasa menahannya. “ TOLONG....TOLL..LONGG” teriakku dengan kata yang terputus-putus karena air dalamnya air laut membuat aku sulit menuju permukaan. Dengan nafas dan sisa tenaga seadanya, aku terus berteriak mencari bantuan. Tetapi hasilnya nihil, kulihat teman-temanku tak berkutik diasana. Hanya berteriak-teriak meminta bantuan kepada nelayan yang akan pergi melaut. Tetapi sayang, tidak satupun nelayan yang terlihat disana.
            Tiba-tiba, aku merasakan seperti ada yang menarik tubuhku dari bawah. Ini membuat aku tidak bisa bernafas karena kepalaku tercelup kedalam air. Sampai akhirnya aku tidak kuat menahan nafas dan pingsan.
*****
            Rasa pengap yang menyelimuti ruangan itu sangat menyesakkan dadaku. Dengan mata sayup dan kepala yang masih sakit aku mencoba bangun dari bongkahan batu sebagi alas tidurku itu. Aku tak percaya ini, tangan dan kakiku di ikat menggunakan rantai. Aku berusaha melepaskanya, tetapi rantai itu sangat kuat. “ TOLONG..TOLONG..lepaskan aku” teriakku.
            “ KRAKK” terdengan keras pintu yang terbuat dari kayu yang sangat tebal terbuka. Dan datanglah dua ekor burung camar yang berwajah aneh dan sangar. “ HEYY anak manusia. Kau telah lancang memasuki daerah kerajaan kami. Kau harus kuadukan kepada Yang Mulia Raja untuk dihukum” kata salah satu burung camar.
            “Apaa?? Ini sungguh aneh. Burung itu berbicara kepadaku. Burung itu bisa berbicara. Sungguh diluar akal manusia.”batinku dalam hati. “Tetaplah disini, aku akan segera membawamu menemui baginda raja setelah kami makan siang” kata burung camar.
            “ Tunggu !!” teriakku. “Ada apa lagi !!” kata burung Camar dengan nada yang lebih ditinggikan.
“ Dimana aku dan siapa kalian ??” tanyaku
            “ Kau berada di Istana balik ombak. Sebuah istana yang berada di tengah laut. Dan kau telah lancang berada disini. Kau sudah sepantasnya mendapat hukuman.” Jawab burung camar.
Kedua burung Camar itu lalu pergi meninggalakan tempat penyekapanku. Setelah berpikir cukup lama akhirnya aku teringat akan kata temanku bahwa istana dibalik ombak itu memang benar-benar ada dan aku sekarang mengetahuinya. Aku juga ingat akan gambar peta dan sebuah kunci berwarna biru muda itu. Beruntung aku tidak lupa membawanya. Kulihat sakuku dan ternyata kedua benda itu ada. Aku sangat bersyukur karena aku membawa peta itu, karena mungkin saja peta itu bisa menunjukan jalan keluar dari istana dibalik ombak ini.
Tetapi, sekarang yang aku pikirkan bukan tentang peta dan kunci itu lagi, tapi bagaimana aku bisa melepaskan ikatan rantai ini. Kemudian aku tak sengaja mencoba kunci berwarna biru itu untuk membuka gembok yang ada pada rantai itu. Setelah kucoba ternyata berhasil. Senyum sumringah pun turut menghiasi wajahku. Kubuka satu-persatu gembok rantai itu, dan kulakukan dengan cepat sebelum burung-burung camar itu datang dan mengetahuinya.
Aku langsung berlari melalui pintu belakang dan pada saat itu juga burung camar itu masuk. Aku pun langsung berlari, berlari dan berlari. Kedua burung camar itu masih tetap mengejarku. Dengan kondisiku yang masih lemas dan burung camar itu semakin cepat mengejarku karena ia mempunyai sayap, aku memutuskan untuk bersembunyi. Dengan masih dalam keadaan berlari, aku melihat keadaan sekeliling yang siapa tahu ada tempat untuk bersembunyi.
Tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menarik lenganku dan membawaku berlari melewati sebuah pasar. Ia mengajakku berlari menuju rumahnya.
“ Untunglah aku bisa lolos dari kedua burung Camar itu. Terima kasih kau telah menolongku” kataku
“ Iya sama-sama. Oh ya, kau siapa dan dari mana ? sepertinya kau bukan orang sini.” Tanya anak itu. “Aku Bella. Aku memang bukan orang sini. Aku tersesat disini. Dan kau...?”tanyaku
“ Aku Mona. Aku juga manusia sepertimu dan aku juga mengalami nasib yang sama separtimu, terdampar di istana balik ombak” terangnya.
“ Lalu bagaimana kau bisa sampai disini ?? Dan tempat apa ini ??” tanyaku. “Aku terseret sebuah ombak yang membawaku ke tengah laut dan pada saat itu ada sebuah pusaran yang menjadikan aku terdampar disini. Istana di balik ombak adalah sebua istana yang berada disuatu tempat yang tidak terdapat didalam peta. Ini bisa disebut sebagai pulau tersembunyi.” Terang Mona
“ Lalu, mengapa mereka ingin menangkap dan menghukumku ?” tanyaku lagi. “ Itu karena baginda raja tidak suka bila ada penyusup yang memasuki wilayah istananya. Apalagi manusia, dia tidak segan-segan menghukum dan memenjarakan manusia yang telah lancang datang ke pulau ini”
“Tetapi,  aku kan tidak sengaja terdampar di pulau ini.” Jawabku.
“Begitulah..semua manusia yang telah sampai di Istana ini tidak akan dibiarkan pergi begitu saja. Mereka akan di sekap di penjara bawah tanah.” Ucap Mona
“Bagaimana cara membebaskan mereka ?” tanyaku.
“ Hanya bisa dilakukan dengan satu cara, yaitu peta Istana di balik Ombak dan sebuah kunci rahasia.” Jawabnya
“ Tunggu dulu, apa ini yang kau maksud ?” kataku sambil menunjukan sebuah kertas dan kunci berwarna biru muda.
“ BENARR..ini adalah peta dan kuncinya. Bagaimana kau bisa mendapatkanya?” tanya Mona
“ Ini aku temukan di gudang rumah ibuku dulu. Awalnya aku mengira ini adalah barang murahan dan tidak berguna, tetapi taman-temanku memintaku untuk tidak membuangnya.” Jawabku
Setelah menyusun rencana dan tak-tik untuk dapat menyusup ke dalam istana, aku dan Mona memutuskan untuk segera bergegas menuju istana untuk membebaskan para tahanan di dalam penjara.
Aku dan Mona menyusup melelui pintu belakang. Dengan aku mempunyai kuncinya, aku menjadi semakin mudah menyusup ke dalam istana. Aku kira, kunci itu hanya bisa digunakan untuk satu pintu dan itu pintu harta karun. Tetapi keinginan itu ku urungkan niatku karena menyelamatkan orang-orang itu jauh ebih penting daripada harta. Apalagi Mona pernah bilang bahwa adik laki-lakinya juga ikut dipenjara disana. Hal ini membuat semangatku untuk menyelamatkan orang-orang itu menjadi berkobar-kobar.
Dengan tak-tik dan langkah yang telah disusun dirumah, akhirnya kami bisa memasuki istana lewat pintu dapur. Kami menyamar menjadi prajurit kerajaan. Anehnya, semua orang di kerajaan memakai topeng yang sangat menakutkan. Mona menyuruh kau juga ikut memakainya.
“Gawat, ada penjaga. Cepat kau lari menuju penjara bawah tanah dan selamatkan mereka. Sementara aku akan tetap disini mengalihkan perhatian mereka” kata Mona
“ Tetapi bagaimana jika kau tertangkap ? kita datang bersama, pulang juga harus bersama.” Jawabku gelisah.
“Tidak !! menyelamatkan mereka jauh lebih penting. Ayo cepatlah lari.” Bentak Mona
Aku pun berlari menuju ke penjara bawah tanah sambil melihat peta itu. Setelah berlari cukup lama, akhirnya aku sampai pada sebuah pintu besar. Ku masukkan kunci itu pada lubangnya. Aku terkejut. Banyak manusia sepertiku terkurung disini.
“ Aku datang untuk menyelamatkan kalian. Cepatlah keluar, tetapi jangan sampai ketahuan.” Bisikku dengan pelan.
“Bella !!” panggil seorang wanita
“ Ibu !! ibu masih hidup ??”jawabku sambil memeluk wanita itu
“Ayo kita tinggalkan tempat ini. Ini bukanlah lam kita.” Kata ibu
Aku, ibu beserta orang-orang lain kabur melalui jalan belakang. Kami keluar secara bergantian, jadi penjaga takkan bisa mengetahuinya. Setelah sampai di luar istana, aku teringat akan Mona. Ia masih berada didalam. Aku pun berlari memasuki istana lagi. Tiba-tiba ada seseorang yang menarik lenganku.
“Diam!! Ini aku.” Kata Mona
“ Kau selamat. Syukurlah!!.” Kataku dengan nafas lega.
Kamipun pergi meningalkan istana dan pulau itu. Dengan kunci itu kami bisa keluar dari pulau misteri itu. Dan kini kami kembali dengan selamat.
Para warga menyambut kedetangan kami dengan senang hati. Orang-orang sangat berterima kasih kepadaku. Karena keberanianku, mereka menjadi selamat dan bisa keluar dari Istana di balik ombak itu.
Sebagai ucapan terima kasih, warga mengarakku menggunakan kereta kuda mewah dan megah. Aku sangat senang dan bahagia bisa menyelamatkan mereka. Dan aku juga bisa menyelamatkan ibuku. Ternyata ia belum meninggal. Bahagianya hatiku tidak bisa dilukiskan dengan apapun di dunia ini.
Saat para warga sedang mengarakku, tiba-tiba datanglah hujan yang sangat deras membanjiri pantai itu. Para warga berlarian mencari tempat untuk berteduh.
Aku pun basah kuyup dan tiba-tiba suara itu mengagetkanku.
“Ichaa !!!! bangun !!! lihat sudah jam berapa. Masih ngorok saja !! nanti terlambat sekolah.” Teriak mama menghancurkan semua mimpi indahku
“AAAHH mama, orang lagi mimpi indah juga diganggu. Padahal aku kan baru saja mendapatkan penghargaan karena telah menyelamatkan warga desa” jawabku sebal dengan badan yang sudak basah kuyup karena disiram air satu ember.
Ternyata hanya mimpi. Tetapi hal itu tak bisa aku lupakan seumur hidupku. Berpetualang pada dunia mimpi sangat menyenangkan. Tetapi, bila harus mendapat hukuman dari guru bahasa jawa di sekolah, mending nggak jadi mimpi aja deh !!
Aku pun bergegas sholat subuh lalu mandi. Kegiatan itu kulakukan dengan super cepat supaya aku tidak terlambat.
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar